Selasa, 29 Desember 2009

SEMARANG TEMPO DOELOE


Vrijmetselaars-loge adalah suatu loji (club house) untuk perkumpulan masoneri (vrijmetselar) yaitu perkumpulan tertutup yang terbesar di seluruh dunia, bertujuan mengangkat derajat rohani, kesusilaan, setia-kawan dan berdasarkan cita-cita humanisme ketuhanan. Loji yang di Semarang yang punya nama perancis "La Constance et Fidèle" (“Ketangguhan dan Kesetiaan”) didirikan pada tahun 1801. Letaknya dekat stasiun Poncol di perempatan Pendrian (sekarang bernama Jl Imam Bonjol) dengan Karangtengah (Jl Kapten Tendean). Dua orang yang terlihat di latar depan berada di pojok perempatan itu. Jalan lurus adalah Pendrian ke arah utara (ke arah Stasiun Poncol). Jalur trem yang menyeberang Pendrian menghubungkan terminal Pendrian Lor (ke kiri) dengan Bojong (ke kanan).

Gedung loji disebut “Gedong Setan” oleh masyarakat Semarang. Kebetulan gedung itu memang suasananya angker dan agak gelap di sekitarnya kalau malam. Dan juga gedung itu dulu sejarahnya memang dipergunakan oleh kelompok penganut aliran kebatinan yang ada ritual serem. Semacam para normal. Menurut orang daerahnya disitu banyak cerita horor juga. Pada masa pendudukan jepang perkumpulan masoneri dilarang. Setelah kemerdekaan Indonesia
gedung digunakan sebagai kantor Kejaksaan Negeri Semarang.

Mengenai cerita horor, saya mendapat keterangan dari seorang saksi mata yaitu almarhum pak Kasbi yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih gedung. Ada cerita tentang arwah penasaran seorang “Suster Kesot” yang tinggal di gedungnya. Konon dia dibantai oleh tentara Jepang. Dia diperkosa dan kaki sama tangan nya dikapak oleh serdadu Jepang. Terus ada cerita tentang toilet di gedungnya. Ketika orang masuk toilet, tiba-tiba ada suara orang yang sedang kencing dan batuk-batuk di dalam toilet itu. Setelah ditunggu-tunggu, tidak ada satupun orang yang keluar dari toilet. Ketika diketuk, pintunya terbuka dan tidak ada siapapun di situ. Juga kadang seperti ada suara orang menggunakan mesin ketik. Padahal tidak ada laporan kalau ada orang yang sedang kerja lembur di salah satu ruangan gedung tersebut. Tapi ruangan yang mengeluarkan suara mesin ketik itu lampunya menyala. Ketika di cek, ternyata kosong tidak ada orang sama sekali dan ruangan terkunci.



Semarang merupakan satu-satunya kota di Jawa yang tidak memiliki Alun-alun. Daerah yang sekarang ditempati kompleks Pasar Johar sebelum tahun 1960an merupakan Alun-alun yang merupakan lapangan untuk pawai militer juga. Di foto ini kita melihat pawai kavalari dan infanteri KNIL. Tuan-tuan besar sedang melihat pawai nya dari tribun kehormatan yang di podium. Antara mereka pasti terdapat G.I.Blume, Asisten Residen Semarang pada waktu itu dan Bupati Semarang Raden Toemenggoeng Tjokrodipoero. Tuan-tuan yang kurang besar berdiri di latar depan. Mereka pakai topi tinggi dan tongkat. Rakyat Semarang sedang melihat pawai dari belakang pakar di latar kanan. Alun-alun ada beberapa tiang lampu. Jaman itu belum ada listrik. Lampu nya memakai gas. Sepur kereta trem melewati Alun-alun juga. Di depan ada tempat perhentian trem yaitu “Halte Aloon-aloon”.

Kita bisa melihat sesuatu gedung dengan kisi-kisi. Itu penjara lama yang berlokasi di depan Masjid Besar yang juga dikenal dengan sebutan Masjid Kauman. Pada tahun 1741 suatu masjid dibangun di suatu kawasan yaitu kawasan dimana sekarang berdiri Masjid Besar Semarang. Itu merupakan masjid paling besar di Semarang yang akhirnya mengabadikan nama Kyai Adipati Surohadimenggola II sebagai pendiri pertama Masjid Besar. Hasil pembangunan masjid itu hanya dinikmati dalam waktu singkat karena masjid tersebut terbakar pada tahun 1883. Pembangunan masjid baru diselesaikan pada tahun 1890. Di foto ini gedung masjid masih sangat baru. Di latar belakang cerobong memuntahkan asap hitam. Jaman itu Semarang sudah punya pabrik.



Sekarang Jln Harun Tohir. Menaranya dibangun pada tahun 1825 dulu merupakan menara api. Kemudian pada tahun 1884 menara api yang baru didirikan lalu menara ini menjadi menara mesjid.


Tentu saja stasiun ini termasuk "tetenger" Kota Semarang. Bangunan ini selesai dibangun pada bulan Mei 1914. Arsitek gedung ini adalah Kapten J.P. de Bordes (1817-1899). Arsitekturnya unik, dengan ciri arsitektur gaya "Indisch" (Hindia Belanda) yang bahan untuk elemen dinding yang bermotif dan berwarna menjadikan bangunan ini sangat estetis.



Ini dua jembatan kereta api khusus kereta barang dan tangki minyak dari pelabuhan ke Pengapon. Jembatan ini sudah diganti jembatan beton.


Kali Baroe 1910an



Menara pengawasan "Uitkijk" di daerah Sleko dibangun pada tahun 1825

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar