Selasa, 29 Desember 2009

BANDUNG TEMPO DULU



Kartupos ini memperlihatkan Hotel Homann dalam keadaan 1883-1937. Hotel ini dulu hanyalah sebuah rumah bilik bambu yang sejak 1871 dimanfaatkan menjadi penginapan. Pemilik adalah Adolf dan Maria Homann dari Jerman. Selanjutnya penginapan ini berubah nama menjadi Hotel Post Road. Letaknya di Groote Postweg (kini Jalan Asia-Afrika) No. 112. Pada tahun 1883 gedung direnovasi dalam gaya arsitektur Eklektis berdasarkan karya arsitek G. Westerlo. Nama berubah menjadi Hotel Homann. Pada tahun 1884 sebuah pesta besar diadakan disini untuk merayakan pembukaan jalur kereta api yang menghubungkan Bandung dan Batavia. Renovasi dengan penambahan hiasan Art Nouveau dan perubahan nama hotel menjadi Grand Hotel Homann terjadi pada tahun 1910.



Inilah lokasi dari lagu legendaris “Hallo Bandoeng!” yang diciptakan oleh Enrico Paoli pada tahun 1926. Di gedung cantik ini, anak dari lagu tersebut mau ngobrol sama nenek tua di Belanda yang langsung meninggal dunia ketika beliau dengar suara cucu lewat telepon. Kantor Telepon ini dibangun sekitar tahun 1898 di Oude Hospitaalweg No.11 (kini Jl Lembong). Sejak tahun 1898 warga Bandung sudah dapat menggunakan jasa telepon interlokal dan sejak tahun 1925 interkontinental juga. Menurut buku “Bandung sebuah wisata sejarah” (Sudarsono Katam) gedung ini dibom oleh Jepang pada tahun 1942 sedangkan menurut buku “Bandung citra sebuah kota” (Robert Voskuil) gedung ini dibumihanguskan oleh TNI pada tahun 1947. Kemudian kantor telepon yang baru dibangun kembali di lokasi sama pada tahun 1953. Sekarang dikenal dengan nama Plasa Telkom Lembong.



Fotografer berdiri di pintu Toko de Vries. Dia mengambil foto dari pertigaan Braga-Groote Postweg (Jl Asia Afrika) mengarah ke utara. Di Tengah perempatan ada seorang tukang polisis yang mengoperasikan semacam pelopor lampu lalulintas yaitu sejenis rambu lalu lintas yang dapat diputar. Pada satu sisi ada tulisan STOP sedangkan pada sisi lainnya ada kata VRIJ (= bebas).

Mata kita melihat Jalan Braga yang masih sepi mengarah ke utara, dengan toko Chotirmal & Co sebagai latar belakang. Di sebelah kiri ada gedung Sositet Concordia yang dibangun pada tahun 1895. Pada 1940 bagian gedung ini mau direnovasi berdasarkan karya arsitek Aalbers sampai gedung yang sekarang menjadi museum konferensi Asia-Afrika. Di belakangnya terlihat bioskop Majestic yang dibangun pada thn 1925. Di belakang terlihat Toko Hagelsteens yang lebih terkendal dengan nama perancis Au Bon March√©. Di sebelah kanan ada gedung apotik Rathkamp yang sekarang menjadi apotik Kimia Farma. Gedung yang dibelakangnya ada papan iklan yang berbunyi “Onderling Belang”. Inilah kantor dari maskapai asuransi. Gedung besar dengan menara adalah Bank Denis. Pada waktu foto ini dibuat Bank Denis masih sedang dibangun. Maka dari itu tahun pembuatan foto ini dapat dipastikan sebagai tahun 1935.




Kartupos memperlihatkan Jalan Braga yang masih sepi mengarah ke utara, dengan toko Chotirmal & Co sebagai latar belakang. Dua tukang polisi memandangi fotografer yang berlokasi di pertigaan Braga-Groote Postweg (Asia-Afrika). Di sebelah kiri ada gedung Sositet Concordia yang dibangun pada tahun 1895. Pada 1940 bagian gedung ini mau direnovasi berdasarkan karya arsitek Aalbers sampai gedung yang sekarang menjadi museum konferensi Asia-Afrika. Di belakangnya terlihat sebuah gudang yang mau dibongkar pada tahun 1920an. Lalu disini dibangun gedung Bioskop Majestic pada 1925. Di belakang terlihat Toko Hagelsteens yang lebih terkendal dengan nama perancis Au Bon Marché. Di sebelah kanan ada gedung Toko Dunlop yang sekarang menjadi apotik Kimia Farma.



Surabaya punya Tunjungan, Malang punya Kayutangan, Jokjakarta punya Malioboro. Kota Bandung tidak kalah punya Braga. Nama Jalan Braga cukup dikenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sampai saat ini nama jalan tersebut tetap dipertahankan sebagai salah satu maskot dan obyek wisata kota Bandung yang dahulu dikenal sebagai Parijs van Java. Tata letak pertokoan di Jalan Braga mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu (1900-1940-an) sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya kota Paris pada saat itu. Menurut sejarahnya bragaweg ini pada awal tahun 1800-an jalan ini menjadi jalan penghubung yang digunakan untuk mengangkut hasil bumi, khususnya kopi, dari dan ke Gudang Kopi (sekarang menjadi Gedung Balai Kota). Alat angkut umum yang digunakan pada saat itu adalah "kar" atau pedati, sehingga jalan itu disebut Karrenweg, kemudian lebih dikenal dengan nama Pedatiweg.

Asal usul nama Braga sendiri masih tidak jelas sampai sekarang. Ada dugaan bahwa perubahan nama Pedatiweg menjadi Bragaweg adalah akibat dari ketenaran Toneelvereeniging Braga, yang didirikan di Pedatiweg pada 1882 oleh Asisten Residen Priangan Pieter Sijthoff. Kemungkinan lain tentang asal usul nama Braga ini adalah dari kata dalam Bahasa Sunda ”ngabaraga”, yang berarti ”berjalan di sepanjang sungai”. Kebetulan letak Pedatiweg ini memang berdampingan dengan Sungai Cikapundung. Jalan Braga menjadi ramai karena banyak usahawan-usahawan terutama berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan di kawasan itu. Pada dasawarsa 1900-1930-an muncul toko-toko dan butik (boutique) pakaian yang mengambil model di kota Paris, Perancis yang saat itu merupakan kiblat model pakaian di dunia.




hotel Preanger ini awalnya adalah sebuah herberg (penginapan) yang didirikan di Groote Postweg pada tahun 1825. Pada tahun 1856 di lokasi ini sebuah hotel baru didirikan yaitu Hotel Thiem. Hotel ini memiliki gaya arsitektur Neo Klasik. Hotel Thiem ganti nama menjadi Hotel Preanger pada tahun 1897. Hotel ini kemudian dibangun ulang dengan bentuknya sekarang pada tahun 1919 – 1929 berdasarkan rancangan arsitek C.P. Wollf Schoemaker. Rancangan ulang ini bergaya arsitektur Art Deco. Nama hotel berubah lagi menjadi „Grand Hotel Preanger“ (foto berikutnya).


Kantor Pos di Groote Postweg 47 (kini Jl Asia Afrika) pada awalnya dibangun tahun 1863 dan direnovasi terus. Tahun 1928-1931 Kantor Pos dibongkar dan dibangun lagi dengan gaya arsitektur Art Deco berdasarkan karya arsitek J. Van Gent. Gedung ini dipugar tahun 1949 akibat dari kerusakan yang parah pada masa perang. Sekarang gedungnya masih sama.

Di depan ada seorang tukang polisi di samping tiang dengan di atasnya papan bundar yaitu lampu setopan di tengah persimpangan. Tiang diputar pakai tangan kalau sudah waktunya, oleh polisi di bawahnya. Kalau malam bersinar.



Toko ABC ±
Kartupos ini berdasarkan foto yang memperlihatkan Jalan Pasar Baroe (kini Jl Otto Iskandar Dinata alias Otista) mengarah ke selatan. Fotografer berdiri di depan gedung Pasar Baru. Toko ABC terletak di perempatan Jl Pasar Baroe dengan Jalan ABC. Kawasan ini merupakan pusat pecinaan di kota Bandung. Waktu foto ini dibuat, gedung ABC baru direnovasi. Di sebelah kiri berada toko kelontong Go Tjioe yang sudah buka. Toko ABC masih tutup. Mungkin masih terlalu pagi. Barang apa dijual disini? Di sebelah kiri terlihat sebuah toko minuman keras dengan reklame: P. Bokma Friesche Genever. Bokma adalah pabrik Genever (sejenis minuman beralkohol khas Belanda) dari propinsi Frisia. Jalan Basar Baroe dilintasi banyak kereta kuda dan sebuah mobil model 1910an muncul juga. Sekarang Toko ABC sudah hilang dan bekas lokasi nya ditempati sebuah gedung lantai empat yang bernama Toko Mukti.



Station Bandoeng 1909-2008

Setasiun lama di Spoorstraat West (Jl Sepur Barat, sekarang menjadi Jl Setasiun Barat) dibangun pada tahun 1884. Bangunan sederhana berlantai satu dan bergaya romantik. Selama tahun pertama sudah 32.000 penumpang naik-turun lewat setasiun ini. Tigapuluh tahun kemudian (1914), jumlah penumpang per tahun sudah 1,3 jt orang. Gedung lama tidak dapat menandinginnya. Tahun 1920 setasiun ini direnovasi dan tahun 1931 bangunan dirombak total dan dibangun kembali dalam gaya arsitektur Art Deco berdasarkan rancangan arsitek J.W. IJzerman. Sampai sekarang gedung ini masih sama. Tugu Lantera didirikan pada 5 juni 1926 (Ultah ke 50 maskapai kereta api Staats Spoorwegen) dibongkar 1950an dan diganti patung lokomotif pada awal 1990an.




Pemandian Tjihampelas
Pemandian Tjihampelas adalah kolam renang tertua di Bandung. Kolam renang ini semula merupakan kolam ikan milik Maria Homann (Istri dari Adolf Homann, pemilik hotel Homann). Kolam renang dibangun secara sederhana pada tahun 1904. Letak kolam di sisi jalan kecil Tjihampelaslaan (kini Jl Taman Hewan) yang menghubungkan Lembangweg (kini Jl Cihampelas) dan Ghijselsweg (kini jl Tamansari). Kolam renang ini terkenal karena airnya berasal dari mata air yang banyak ditemukan di tepi Sungai Cikapundung. Sejak awalnya kolam renang sederhana tersebut dilengkapi dan dimodernisasi beberapa kali.

Sejak tahun 2007, pemandian ini ditutup untuk umum secara bertahap dikarenakan mahalnya perawatan dan pemeliharaan pemandian tersebut sehingga kepemilikannya berpindah kepada pengusaha yang rencananya akan membangun sebuah hotel. belum diketahui apakah pemandian Cihampelas direhab atau dibongkaryang. Mungkin pemandian tersebut akan menjadi pemandian Hotel.




Cihampelas Bandung 1913
awasan Cihampelas merupakan salah satu ikon Kota Bandung yang terkenal sebagai pusat jins. Sejak tahun 2004 di kawasan ini terdapat kompleks perbelanyaan “Cihampelas Walk” alias “Ciwalk” yang sudah terkenal kemana-mana. Pada jaman dahulu, Cihampelas merupakan desa yang nyaman. Daerahnya tenang, udaranya segar. Menurut cerita, jalan tersebut dinamakan Cihampelas karena disana bayak terdapat pohon hampelas. Nama pohon itu diambil karena salah satu sisi daunnya kasar sehiga menyerupai kertas ampelas yang biasa digunakan untuk memperhalus permukaan kayu.

Pada awal 1900an di Cihampelas terdapat salah satu jalan bernama Tjihampelaslaan (= Jalan Cihampelas) tetapi lokasi berbeda dengan Jl Cihampelas yang modern (yang melewati Ciwalk) yang pada awal tahun 1900an bernama Lembangweg (= Jalan Lembang). Tjihampelaslaan yang asli kini bernama Taman Hewan (sambungan Jl Siliwangi) mungkin karena terdapat kebun binatang di dekat situ. Taman Hewan tersebut menyeberangi Sungai Cikapundung, dekat pemandian Cihampelas. Daerah di sekitar situ adalah lokasi yang digambarkan di kartu pos ini.

Kartu pos dibuat dari foto hitam-putih yang diberi warna secara manual. Lima orang Eropa sedang berplesir ke Sungai Cikapundung. Mungkin foto merupakan potret keluarga. Mereka memakai baju yang terlalu bagus untuk tempat basah seperti ini kecuali cowok di sebelah kanan yang sudah lepaskan sepatu dan kaki celana digulung. Foto mengarah ke utara dengan gunung Tangkuban Perahu sebagai latar belakangnya. Sekarang daerah ini sudah menjadi pemukiman kumuh yang padat dan pemandangan indah seperti di kartu pos tidak ada lagi.



Dago Bandoeng ±1912-2008
Kartupos yang diterbitkan oleh Vorkink dari Bandoeng ini diberi judul dalam bahasa Belanda “Dagoweg nabij het Krachtstation”. Artinya: “Jalan Dago dekat Pembangkit Listrik”. Foto mengarah ke utara. Fotografer mengambil foto ini dari dekat lokasi dimana terminal Dago berdiri pada saat ini. Di latar belakang terletak lokasi yang dinamai Dago Bengkok. Selain itu ada jalur menanjak yang disebut “Tangga Seribu”. Tangga Seribu mempunyai hanya 597 anak tangga. Di atas bukitnya terdapat kolam air yang berfungsi sebagai tempat penampungan air dari sungai Cikapundung. Di sebelah Tangga Seribu ada pipa air mulai dari kolam air sampai ke bukit bawah. Air dari kolam digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. Pembangkit Listrik memiliki kemampuan 3000 DK. Dibangun pada tahun 1906 oleh BEM (Bandoengsche Electriciteits Maatschappij). Pembangkit listrik ini sekarang dimiliki oleh perusahaan PLTA Bengkok (PLTA = Pembangkit Listrik Tenaga Air).

Jalan Dago naik ke lereng gunung yang dahulunya banyak terdapat kebun kopi dan teh. Pada jaman Belanda disana terdapat kedai teh yang ternama, yaitu “Dago Theehuis”. Para meneer dan nyonya kolonial suka minum teh di kedai ini dan menikmati indahnya pemandangan. Kedai tersebut sekarang sudah dibongkar. Beda dengan restaurant “Dago Teahouse” yang modern. Di jaman dulu jl. Dago adalah jalan pedesaan. Mulai dari 1927, beberapa kelurahan baru di kawasan Bandung utara dibangun, tetapi jalan lama yang sudah ada disana tetap dipertahankan dan dijadikan jalan utama. Jalan Dago di upgrade dan dijadikan perhubungan lalu lintas yang lebar. Mulai dari BIP sampai Terminal Dago punya empat jalur, dari terminal ke utara (“Dago Atas”) punya dua jalur. Kartupos ini memperlihatkan bagian Dago Atas.



Tjoeroek Dago Bandoeng 1905

Curug Dago adalah sebuah air terjun di sungai Cikapundung di daerah Bukit Dago, Bandung. Terletak di ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut. Curug Dago hanya memiliki ketinggian lebih kurang 10 meter. Namun karena terjunan air jatuh ke dalam sebuah rongga yang terbentuk oleh batu lava basalt yang besar sehingga suara gemuruh air sangat terdengar jelas dari kejauhan. Hasil analisis penanggalan K-Ar menunjukkan lava basalt di Curug Dago berumur 48.000 tahun yang lalu.

Kartupos diterbitkan oleh J.C. Becker dari Bandoeng memperlihatkan 5 orang istirahat di tepi sungai cikapundung. Ada 2 orang bule yang memakai topi gaya Eropa dan 3 pribumi yang memakai ikat kepala. Yang berdiri memegang senapan panjang. Mungkin sekali kelompok ini sedang memburu. Dua orang pribumi yang di sebelah kanan jongkok. Kedua orang bule duduk di atas tikar atau karpet kecil agar bajunya tidak kotor. Kakinya diluruskan ke depan karena tidak bisa jongkok.

2 komentar:

  1. Fariz van java namanya, memang indah. sy sdh meliha foto2 bandung tempo doeloe. terima kasih

    BalasHapus
  2. Merinding....bandung kota yg nyaman

    BalasHapus